Sekilas Info

Melihat Desa Terjauh di Kecamatan Kayan Hulu, Desa Tanjung Miru Belum Merdeka, Masih Andalkan Jalur Sungai

SINTANG | SenentangNews.com-

SINTANG | SenentangNews.com- Hidup di wilayah pedalaman punya beban besar. Harus banyak bersabar dan pintar mensyukuri karunia Tuhan. Sebab, sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur tertinggal beberapa langkah dibanding kawasan perkotaan.

Seperti di Desa Tanyung Miru, Desa paling ujung di kecamatan Kayan Hulu ini sektor pembangunannya masih jauh dari yang diharapkan mayarakat di daerah ini. Sungai masih menjadi jalur transportasi andalan yang diminati warga yang berpenduduk 700 jiwa ini.

Bagaimana tidak untuk menuju daerah tersebut, bukan perkara mudah. Sebab, harus melewati jalur sungai yang memiliki beberapa riam. Sedangkan untuk transportasi darat sampai saat ini belum tersedia.

Menurut Camat Kayan Hulu, Tober Manurung ketika bincang ringan awak media ini ketika berada di Sintang, Kamis (4/5) mengisahkan saat ini masyarakat di Desa Tanyung Miru masih belum merdeka. Sepanjang 72 tahun kemerdekaan, merobek isolasi daerah pedalaman layaknya pungguk merindukan rembulan. “Ya saat ini kita belum merdeka,”katanya membuka perbincangan.

Dikisahkan Tober desa Tanyung Miru, berjarak 50 kilometer dari ibukota kecamatan Tebidah. Untuk mengurus KTP atau bertemu camat, penduduk harus menempuh perjalanan setara dari Sintang Menuju Sepauk.

Menurut Tober masyarakat desa Tanyung Miru jika hendak pergi ke ibu kota Kecamatan Tebidah aksesnya harus menggunakan jalur sungai. Lamanya lanjut dia selama dua hari dua malam ke ibu kota kecamatan menggunakan spead.

Pria ramah senyum yang pernah beberapa kali turut dalam rombongan menuju desa terjauh tersebut mengatakan perjalanan yang melelahkan ketika malam menghampiri, mereka beristirahat di atas batu-batu kerikil di tengah sungai. Pulau kecil itu muncul ketika air sungai surut. Karangan, begitu warga menamainya, adalah tempat paling aman dari hewan buas.

“Dalam perjalanan hanya bisa bersyukur untuk bisa sampai ke daerah tersebut bahkan tak seorang pun menginginkan air sungai mendadak merayap naik lalu menenggelamkan kami yang sedang lelap,”katanya.

Tober menyebut, perkembangan kehidupan masyarakat di daerah pedalaman khususnya di desa Tanyung Miru belum merata. Sebagian warga memang mengeluhkan infrastruktur berupa jalur darat yang hingga kini belum terlihat jelas pembangunannya.

“Harapannya tahun depan sudah ada jalur yang bisa dilewati. Kalau tidak, masyarakat akan terus menjerit. Bahkan statmen bupati Sintang untuk tahun 2019 mendatang mobil Avanza yang iya pakai sudah bisa tembus kesana,”kata Tober meniru perkataan bupati. (bny)