Sekilas Info

Soal Ratusan Sawit Dibiarkan Membusuk, Dishutbun akan Segera Panggil Pimpinan PT CKS

SINTANG | SenentangNews.com-

SINTANG | SenentangNews.com- Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sintang akan segera memanggil pihak perusahaan PT Citra Kalbar Sarana (CKS) menyusul polemik yang terjadi antara masyarakat dan perusahaan.

“Besok (Kamis 16 Juni 2016) kami akan segera memanggil perusahaan,” kata Gunardi Kabid Pengembangan Usaha Perkebunan, Rabu (15/6).

Dinas Kehutanan kata Gunardi baru-baru ini sudah menggelar rapat dengar pendapat di DPRD Sintang bersama sejumlah petani plasma dari Kecamatan Sepauk.

Sejumlah petani berkeluh kesah terhadap keberadaan PT CKS di Kecamatan Sepauk Antara lain perusahaan tidak memanen sawit, akibatnya produksi plasma berkurang. “Makanya kami akan panggil pihak perusahaan. Untuk mengetahui apa permasalahan yang sesungguhnya,” ungkap Gunardi.

Pemerintah Daerah kata Gunardi bisa saja memberi sanksi jika pihak perusahaan menelantarkan buah sawit milik petani plasma. Hanya saja sanksi yang diberikan berupa teguran untuk membangun.

Sebelumnya, Kamis (9/6), Puluhan masyarakat dari 12 desa yang ada di kecamatan Sepauk kembali mengeluh. Mereka mengadukan nasibnya ke kantor DPRD Sintang karena Perusahaan PT Citra Kalbar Sarana (CKS) yang telah beroperasi sejak tahun 2004 yang lalu telah banyak membohongi masyarakat sekitar.

Mereka menuntut langkah konkrit dari Pemerintah maupun wakil rakyat untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi. Kedatangan masyarakat  pada Kamis, (9/6) sekitar pukul 10.00 wib tersebut langsung diterima ketua komisi B DPRD Sintang Harono Bejang didampingi wakilnya Liyus dan seketaris komisi II DPRD Sintang Markus Jembari serta anggota dewan lainnya.

Kades Panisung Rasio mengatakan pihaknya terpaksa mendatangi Komisi II DPRD Sintang, karena sejak beroperasinya perusahaan sawit di daerah mereka tidak memberikan dampak yang berarti terhadap kelangsungan hidup bagi masyarakat yang sudah menyerahkan lahannya ke PT CKS.

“Sekarang penghasilan berapa bulan ini pembayaran kapada para petani hanya sekitar Rp. 75 Ribu hingga Rp. 100 Ribu, ini sangat menyiksa para petani kami,” ujarnya.

Menurut Rasio sudah sekitar empat bulan terakhir ini, kebun sawit di areal Dusun Binjai Desa Peninsung Kecamatan Sepauk tidak dipanen dan membusuk dipohon. Sebagian yang telah terlanjur dipanen pun, juga dibiarkan membusuk ditepi jalan.

“Disaat harga sawit melambung hingga Rp. 18 Ribu hingga Rp. 20 Ribu pun, petani di kami hanya mendapat hasil sekitar Rp. 500 Ribu per bulan. “Menurut perusahaan kalau kebun dengan pola kemitraan ya begitu. Padahal, kami menyerahkan lahan yang telah bersertifikat Lahan Usaha bekas proyek Transmigrasi,” ucapnya.(bny)