Sekilas Info

Pupuk NPK Pelangi Menghilang Petani Menjerit, Pemerintah Diminta Jangan Diam

Ilustrasi

SINTANG I Senentang news.com- Hilangnya pasokan pupuk jenis NPK Pelangi bersubsidi menjelang musim tanam tahun ini membuat banyak petani menjerit. Kegalauan petani cukup beralasan lantaran selama ini mereka sudah cocok dan terbiasa menggunakan pupuk tersebut.

“Penggunaan pupuk jenis NPK Pelangi ini sangat menguntungkan karena setelah kami gunakan hasilnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat bagus,” ujar Supriyono, Kelompok Tani Kerjasama, Desa Jelimpo, Kecamatan Jelimpo Kabupaten Landak dihubungi kemarin.

Menurutnya, pupuk jenis NPK Pelangi yang diproduksi PT Pupuk Kaltim sangat berdampak pada produksi usaha tani yang mereka lakukan. “Kami pikir karena komposisinya lebih bagus sehingga hasil panen kami juga semakin baik,” jelasnya.

Dia menilai, selama ini sangat mudah bagi mereka memperoleh pukuk tersebut lantara sudah ada kerjasama yang baik dengan pengecer di wilayahnya dan juga pihak distributor. Namun sebulan terakhir dia kaget ketika hendak mencari pupuk NPK Pelangi ternyata sudah kosong, sementara Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sudah dibuat untuk musim pemupukan berikutnya.

“Kami sudah terbiasa menggunakan pupuk itu, pernah mencoba merek lain, tapi hasilnya beda jauh dengan ketika kami menggunakan NPK Pelangi karena lebih bagus,” tukasnya.

Informasi yang diperolehnya, stok pupuk tersebut digudang sedang kosong dan belum diketahui kapan disuplai lagi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Harapan kami pemerintah cepat mengatasi persoalan ini, jangan diam saja karena kami sangat memerlukan pupuk tersebut, kalau lambat dipenuhi jelas kami akan dirugikan dan tentunya berdampak pada total produksi daerah ini,” ucapnya.

Senada disampaikan M Jais, Kelompok Tani Seribu Daya A, Desa Bukit Batu Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah. Menurutnya, jika pemerintah tidak cepat menangani masalah kelangkaan pupuk jenis NPK Pelangi maka petani akan sangat dirugikan.

“Bagaimana kami bisa maksimal mengelola lahan kalau sarana produksi saja susah didapat,” kata dia.

Dia mengatakan, urusan pupuk itu sangat vital bagi petani karena berpengaruh terhadap produktivitas lahan yang digarap, apalagi NPK Pelangi sudah lama mereka gunakan dan sangat cocok dengan karakter lahan di wilayahnya.

“Kalau dipaksakan menggunakan pupuk lainnya tentu kami keberatan, kami sudah cocok dengan pupuk tersebut karena kami nilai kualitasnya bagus,” ujarnya.

Apalagi sepengetahuan dia, pupuk tersebut diproduksi di Kalimantan sehingga sudah selayaknya pupuk tersebut mudah diperoleh petani karena jarak dari tempat produksi ke titik distribusi tidak terlalu jauh.

“Saya tidak yakin kalau kelangkaan ini karena keterlambatan distribusi, pasti ada persoalan lainnya yang cenderung mengabaikan hak dan keinginan kami sebagai petani,” ujarnya.

Persoalan tersebut menurutnya mesti cepat diselesaikan dan mestinya pemerintah memberi ruang yang besar kepada produsen pupuk di Kalimantan untuk berproduksi dan memenuhi kebutuhan petani di Kalimantan khususnya Kalimantan Barat.

“Bagi kami yang awam tentunya akan lebih mudah memperoleh pupuk yang diproduksi di Kalimantan ketimbang di tempat lainnya, distribusi semestinya bisa lebih cepat sesuai kebutuhan petani,” jelasnya.

Sementara, Jimmy Pratomo, Sekjen Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) menilai pentingnya pemerintah mendengar suara petani karena pada dasarnya petanilah yang lebih paham kebutuhan sarana produksi untuk lahan usaha taninya.

“Apalagi informasinya pupuk yang dibutuhkan petani itu cocok dengan kondisi lahan di Kalbar, dengarkan suara petani, saya yakin pertanian Kalbar bisa maju,” kata dia.

Dia juga mendengar kabar jenis pupuk NPK Pelangi tidak mengandung sulfur karena diproduksi dengan cara berbeda seperti pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska.

“Unsur sulfur tersebut kabarnya justru memicu keasaman tanah, sementara tanah kita sudah masam,” jelasnya.

Aktivis pertanian, Sandi menilai komposisi pupuk yang ideal selayaknya bisa efektif digunakan sesuai dengan kondisi lahan usaha tani yang ada.

“Misalnya lahan dengan keasaman tinggi, mestinya pupuk yang diberikan tidak mengandung bahan yang bisa meningkatkan kadar keasaman tanah karena akan berdampak pada penurunan produksi,” kata dia. (mus/red)