Sekilas Info

Kisah Perjalanan Wartawan Lewat jalur Sungai Menuju Desa Maung Kecamatan Ketungau Hilir

SINTANG I Senentang news.com

SINTANG I Senentang news.com-Sungai berliku dengan tikungan tajam penambah eksotis  sungai di Sintang. Salah satunya jalur menuju Ketungau. Melintasinya menjadi tidak bosan. Suasananya seakan hidup. Mata menjadi terhibur untuk memanjakan pandangan.

Selain eksotis alam yang bisa dilihat, lalu lalang kapal bandung juga menjadi pemandangan tak kalah hebat. Intensitas kapal mirip rumah itu meramaikan keheningan sungai yang dilintasi. Kapal  bandung jika tampak hampir karam menandakan lagi sedang sarat muatan. Isinya bisa  sembako, jika menuju perhuluan. Kalau bertolak ke arah hilir, muatannya bisa ditebak. Yakni berupa hasil bumi yang akan dijual ke kota.

"Banyak kapal bandung lewat. Jalannya memang lambat. Bisa berminggu-minggu kalau sekali jalan," kata Beni saat dijumpai dalam perjalanan menuju Ketungau, Jumat (6/2).

Berangkat ke Ketungau Beni menumpang speadboat berkekuatan 115 PK. Kendaraan yang ditumpanginya lumayan laju untuk ukuran angkutan air. Tujuannya, ke Ketungau Hilir, desa Maung. Waktu tempuhnya sekira dua jam  dari Sintang.

Perjalanan lewat sungai begitu dinikmati Beni. Jalur air sengaja dipilih karena lebih nyaman. Akses darat dapat juga dilalui, namun waktu tempuh bisa lebih lama. Kondisi jalan pun tidak terlalu mendukung.  "Mengarungi sungai pengalaman yang tak pernah membosankan. Saya bisa melihat begitu banyak pemandangan," katanya.

Untuk bisa sampai ke Ketungau, banyak perkampungan di tepian sungai Kapuas dilewati. Sebelum kemudian menyusuri sungai Ketungau.  Tandanya yakni ada cabang sungai. Belok kiri menuju Ketungau. Lurus berarti ke Kapuas Hulu.

Lebar sungai Ketungau tidak lebar seperti sungai Kapuas. Diameternya  setengah dari Sungai Kapuas. Airnya tenang. Makin ke hulu, kejernihan sungainya masih dapat dilihat. Pepohonan menghias tepian sungainya. Deretan-deretan perkampungan muncul menandai perjalanan.

Menurut Beni akses sungai menjadi lingkungan tak terpisahkan bagi warga perhuluan. Angkutan barang banyak didistribusikan melalui sungai. Kapal-Kapal Bandung petunjuknya. Jalur darat, lanjut dia, jangkauannya masih terbatas.

Karena itu, menurutnya, menempuh perjalanan sungai dijamin tak membosankan. Hubungan manusia dan alam begitu terasa. Alam menghadirkan panorama keindahan. Baik pohon maupun alur sungai yang dilewati. Sungai juga membentuk budaya masyarakat, yakni penggunaan kendaraan air atau membangun perkampungan ditepian sungai. "Lanting-lanting juga bisa dijumpai saat menyusuri sungai Ketungau," kata Beni.

Beni sendiri sudah tak asing dengan transportasi air. Selain ke Ketungau, dia pernah berangkat ke Serawai dan Ambalau, yang memang belum terhubung transportasi daratnya. "Sungai-sungai di Sintang bisa dinikmati untuk perjalanan," katanya.

Ia menilai jalur transportasi air  layak dikembangkan sebagai sektor wisata. Pasalnya, kebiasaan warga menggunakan jalur sungai untuk berpergian sudah terbangun sejak lama. Jauh sebelum akses darat dibangun pemerintah,  seperti menuju Ketungau. "Melancong menuju perbatasan lewat jalur sungai tentu sangat menarik," kata Beni. (*)