Sekilas Info

PKS Enggan Beli TBS, Niko : Petani Sawit Dirugikan

Nekodimus

SINTANG | SenentangNews.com- Kebijakan Pemerintah melarang ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) sejak April lalu memberikan pengaruh besar pada kesejahteraan petani-petani sawit di Indonesia termasuk di Bumi Senentang.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Nekodimus menilai adanya larangan ekspor CPO yang dicetuskan Pemerintah ini bepengaruh besar pada kesehateraan petani karena harga Tandan Buah Segar (TBS) merosot anjlok.

“Saat ini, harga TBS ada yang 2.300 per kilogram, yang jadi masalahnya bukan lagi tentang harga TBS turun namun banyak TBS yang tidak dibeli pabrik. Contoh PT. CUP tidak mau membeli TBS petani,” ujarnya ketika ditemui dikantornya kemarin.

Nekodemus mengungkapkan saat ini banyak petani yang enggan memanen sawitnya bukan karena harga TBS anjlok namun karena tidak ada perusahaan yang membelinya. Seperti yang terjadi di PT. CUP yang ada di daerah Ketungau yang tidak lagi membeli TBS milik petani sawit.

“Daerah Ketungau, sudah satu bulan ini tidak bisa panen, ya itu, karena tidak ada yang membelinya,” katanya.

Kondisi ini, lanjut politisi Hanura ini, harusnya menjadi perhatian Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi mengingat sebelumnya telah ada surat edaran mengenai Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tidak membeli atau menurunkan harga buah tidak berdasarkan keputusan Dinas Perkebunan Kabupaten Sintang maka akan diberikan sanksi.

“Sekarang, sanksi tidak ada, solusi juga tidak ada. Yang menderita saat ini petani sawit. Sawit tidak dipanenkan jadi busuk, perawatan jalan terus,” ucapnya.

Nekodimus menyampaikan pihaknya telah berusaha untuk berkomunikasi dengan PKS untuk mengetahui kendala yang ada sehingga mereka tidak lagi membeli TBS dari Petani Sawit.

“Alasan mereka CPO menumpuk sehingga tak bisa lagi membeli TBS,” tuturnya.
Untuk itu, Nikodemus berharap Pemerintah Pusat segera mencabut larangan ekspor CPO agar Petani Sawit di Indonesia tak terkecuali di Bumi Senentang ini bisa bernafas lega karena TBSnya dapat dijual.

“Sekarang kerugian petani luar biasa. Jadi kita harap larangan ini dapat dihapus dan di buka kembali sehingga harga sawit ditingkat petani bisa kembali normal kembali” pungkasnya.

Penulis: Oktavianus Beny