Sekilas Info

Dari Acara Ritual Ngumai Semengat Keling dan Kumang Ke 28

Munaldus (kanan) bersama Ketua Dewan Pengurus KSP CU Keling Kumang Stefanus Masiun dan CEO Valentinus disela acara ritual.

SEKADAU | SenentangNews.com – Sebuah lembaga moderen dengan CSR terbaik (Majalah Peluang, 2017) dan Information Technology (IT) terbaik (Majalah Peluang, 2021) dikelola oleh 600-an aktivis yang rata-rata S1, tidak harus meninggalkan adat istiadat, budaya dan penghormatan kepada leluhurnya. Seperti itu yang berlaku di KSP CU Keling Kumang.

Salah satu bukti pelaksanaanya adalah dengan menggelar acara ritual Ngumai Semengat Keling dan Kumang, sebagaimana dilakukan pada Sabtu (29/1/2022) sebelum matahari terbit hingga siang. Acara di gelar di Aula Kantor Pusat lembaga ini yang terletak di dusun Tapang Sambas desa Tapang Semadak kecamatan Sekadau Hilir kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.

Paulus Ingkung saat memimpin acara ritual.

Ritual dipimpin oleh Paulus Ingkung (61) dari dusun Lepat Betung desa Tembawang Bulai kecamatan Sepauk, yang be-timang berbahasa Dayak Seberuang. Ini adalah untuk yang terakhir kalinya Paulus Ingkung memimpin acara Ngumai Semengat ini. Karena aturannya hanya boleh tiga kali berturut-turut. Untuk Ngumai Semengat tahun 2023 nanti, pemimpinnya harus orang lain lagi.

Menurut penasihat KSP CU Keling Kumang Munaldus, yang juga salah satu pendiri lembaga ini, manajemen boleh moderen, Information Technology (IT) nya boleh semakin maju dan sudah menyesuaikan diri dengan era digital, namun tetap harus berakar pada budaya lokal.

“Pagelaran ritual Ngumai Semengat Keling dan Kumang ini sudah menjadi tradisi dan agenda tetap tahunan di lembaga ini. Di usianya yang sudah 29 tahun, KSP CU Keling Kumang sudah melakukan acara ritual ini untuk yang ke 28 kalinya,” terang Munaldus.

Pengarang novel Kidung Di Tampun Juah dan penulis buku-buku tentang Credit Union ini menambahkan, yang harus dijunjung tinggi adalah keteladanan. Demikian heroiknya Keling dan Kumang pada masanya. Riwayat ini dituturkan oleh para orang tua dan ahli sastra lisan lokal dari generasi ke generasi.

“Keling dan Kumang adalah nenek moyang leluhur suku Dayak, khususnya Ibanic Group. Memang setiap orang ada jamannya, dan setiap jaman ada orangnya. Dan kami lah para keturunannya yang wajib meneladani dan berhubungan secara spiritual,” terang Dosen Matematika di Universitas Tanjungpura ini.

Penulis: Kris Lucas
Photographer: Kris Lucas