Sekilas Info

Korban Banjir di Sintang Mengungsi ke Kandang Babi

Maria Sohena saat berada di pengungsian kandang babi yang kosong

SINTANG I SenentangNews.com-  Banjir besar yang melanda Kabupaten Sintang sejak tiga pekan mengisahkan kisah miris bagi para pengunsi. Setelah sebelumnya beberapa warga kedapatan mengungsi di kebun karet, kuburan dan keramba ikan. Kali ini warga harus mengungsi di kandang babi.

Media ini sempat berkunjung ke daerah tersebut. Ya Paulinus Warga Kelurahan Akcaya Kecamatan Sintang tepatnya di gang Sederhana depan RRI Sintang harus mengungsi ke kandang babi sejak banjir besar melanda Kabupaten Sintang. Paulinus tak sendirian ia bersama dua kepala keluarga lainnya terpaksa harus mengungsi di kandang babi permanen.

"Jumlah kami yang mengungsi ada 3 kepala keluarga dengan jumlah jiwa 12 orang. Kami disini sudah dua minggu mengungsi di kandang babi ini,kata Paulinus, Jumat (19/11/2021).

Menurut ayah tiga anak ini pilihan mengungsi di kandang babi bukan tanpa alasan sebab sejak banjir besar melanda Sintang, rumahnya ikut terendam setinggi perut. "Banyak barang kami yang rusak terendam air seperti lamari maupun tv,"katanya lagi.

Tempat tidur pengungsian korban banjir keluarga Paulinus

Lebih lanjut Paulinus mengisahkan kandang babi tempat pengungsian tersebut sudah kosong dikarenakan kena virus ASF.

"Dulu saya hidup babi sekitar 20 an ekor. Karena ada sampar semuanya mati. Makanya kandang ini jadi alternatif bagi kami untuk mengungsi,"jelasnya.

Menurut Paulinus banjir kali ini adalah banjir terbesar sejak 20 tahun terakhir. "Kalau pun ada banjir tiap tahunnya tidak separah ini. Biasanya banjir hanya sampai jalan saja , banjir kali ini sudah merendam rumah kami,"jelasnya.

Akses menuju rumah paulinus menggunakan rakit

Karena mengungsi di kandang babi, kondisi peristirahatan sementara pun serba terbatas dan tidak ada fasilitas yang memadai. Tampak bagian belakang disekat menggunakan terpal berwarna oranye sementara bagian samping digunakan untuk istirahat.

"Beginilah kondisi kami selama dua minggu mengungsi. Puji Tuhan kami bisa bertahan meskipun dalam keadaan seadanya,"ucap istri Paulinus, Maria Sohana.

Meskipun dalam kondisi harus mengungsi, Maria terus bersyukur sebab bantuan terus berdatangan baik dari desa maupun dari gereja katolik.

"Untuk bantuan sampai saat ini lancar meskipun harus makan mie telor terus. Intinya kami bersyukur aja,"pungkasnya.

Berdasarkan Update data banjir dari pemerintah Kabupaten Sintang pertanggal 19 November 2021, 88 Rumah Ibadah Terendam, 18. 997 Jiwa Masih Mengungsi, 4 Jiwa Meninggal Dunia

Selain itu warga terdampak banjir tersisa di 7 kecamatan terseber di Kecamatan Sintang, Kelam Permai, Dedai, Tempunak, Ketungau Hilir, Sepauk, dan Binjai Hulu. Banjir sudah tidak ada di Ambalau, Serawai, Kayan Hilir dan Kayan Hulu.

Penulis: Oktavianus Beny