Sekilas Info

Layani Warga Setempat dan Pengungsi Dari Luar, Desa Mertiguna Buka Dua Dapur Umum

Kades Jubir Saluk dan Ketua BPD Achmadin berada di salah satu dapur umum desa Mertiguna.

SINTANG | SenentangNews.com – Desa Mertiguna kecamatan Sintang, sebetulnya termasuk yang paling awal dilanda banjir. Hanya karena letak geografisnya jadi kurang terekspos. Desa yang berpenduduk 3.400 jiwa tersebar di lima buah dusun, yakni dusun Sungai Labi, dusun Meranti Jaya, dusun Keladan Tunggal, dan dusun Makmur.

Keberadaan sungai Nenak dan sungai Tembulan yang membelah desa ini lah, yang membuat desa ini termasuk salah satu kawasan yang paling awal tergenang banjir. Banjir di Mertiguna mula-mula memutus jalan poros yang menghubungkan desa lalang baru dan desa Tertung. Kemudian disusul dengan menggenangi dusun Nenak Tembulan dan terus melebar ke sejumlah dusun lainnya.

Seorang warga dusun Nenak Tembulan, Saiman (51) menginformasikan bahwa dari sejumlah banjir-banjir besar yang pernah dialami, belum pernah yang sebesar banji kali ini. Didepan Gereja GPDI Hermon, kedalaman air lebih dari 2 meter. Titik garis pantai telah bergeser sekitar 300 meter dari garis pantai banjir besar tahun 2018 lalu.

Menurut Kepala Desa Mertiguna Jubir Saluk yang ditemui di sebuah dapur umum, Selasa (9/11/2021) sementara ini sudah ada dua dapur umum di Mertiguna. Keberadaan dapur umum ini dalam perkembangannya ternyata bukan hanya melayani warganya, juga membantu para pengungsi yang datang dari luar. Ada juga partisipasi warga yang secara pribadi menyiapkan makanan untuk dibagikan.

“Para relawan yang mengelola dapur umum adalah ibu-ibu dari Karang Taruna dan PKK setempat. Mereka tanpa jeda terus mempersiapkan makanan untuk warga terdampak banjir. Dapur umum di Mertiguna bukan hanya melayani warga setempat, juga dapat membantu para pengungsi dari luar. Para pengungsi dari luar selalu didata oleh staf Kantor Desa,” kata Jubir Saluk.

Kantor Desa selain terus menyelenggarakan pemerintahan desa, telah merangkap menjadi Posko Banjir. Posko menjadi tempat untuk menerima sumbangan para donatur yang menyumbang berbagai bahan pokok. Sebuah Pangkalan Elpiji turut meringankan beban dengan menjual dengan harga eceran hanya Rp. 16.000,- per tabung. Tabung gas pun dipinjamkan oleh pihak pangkalan. Sehingga tidak terjadi kelangkaan elpiji di Mertijaya.

“Selain terus mendata warga terdampak banjir, anyak data yang harus segera dipersiapan Staf Kantor Desa. Contohnya permintaan data orang sakit dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. Atas dasar data tersebut Puskesmas keliling akan mendatangi warga yang sakit,” kata Jubir Saluk.

Ditempat yang sama, Ketua BPD setempat, Achmadin turut menginformasikan bahwa tempat mengungsi warga dipersiapkan di gedung Sekolah Dasar. Ditempat tersebut sarana MCK (mandi, cuci, kakus, red) cukup baik. Para pengungsi dari luar, sementara ini masih tinggal di rumah-rumah keluarganya. Namun ada juga warga Nenak Tembulan yang mengungsi gedung gereja GPDI Hermon. Meski gereja ini berada di ketinggian, namun sudah dikelilingi oleh banjir sangat dalam.

“Untuk sementara sudah ada dua dapur umum, yaitu di dusun Makmur dan dusun Sungai Labi. Para ibu-ibu relawan yang menelola dapur umum ini, adalah gabungan ibu-ibu dari RT 9, RT 12 dan RT 18. Semoga bencana ini cepat berlalu,” kata Achmadin.

Penulis: Kris Lucas
Photographer: Kris Lucas