Sekilas Info

Membludak, Rumah Sakit Kebanjiran Pasien, Pasien DBD Dirawat Sampai di Selasar

Pasien DBD Terpaksa Menjalani Perawatan di Selasar

Pasien DBD Terpaksa Menjalani Perawatan di Selasar

SINTANG I Senentang news.com-Pasien Deman Berdarah Dengue (DBD) membludak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade Moch Djoen Sintang. Jumlah pasien dengan ruang inap tidak sebanding.  Akibatnya, sebagian pasien DBD harus menjalani perawatan di selasar rumah sakit.

“Fasilitas rawat inap  terbatas. Kondisinya  sudah tidak mampu menampung pasien DBD yang terus bertambah,”  ujar Direktur RSUD Ade Moch Djoen Sintang, Harysinto Linoh kemarin.

Menurut Sinto, ruang inap RSUD Sintang hanya 126 tempat tidur. Sementara total pasien yang menjalani perawatan mencapai 140 orang. Kondisi itu membuat  sebagian pasien tidak bisa mendapatkan tempat tidur. Dan, kebanyakan merupakan pasien DBD. “Pasien DBD membludak. Sebanyak 99 persen pasien DBD adalah anak-anak,” kata Sinto.

Kendati demikian, Sinto menjamin, tidak mengurangi pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada pasien. Keterbatasan daya tampung hanya situasional lantaran dipaksa keadaan.

Sinto menambahkan, setiap hari pasien DBD selalu bertambah di rumah sakit. Jumlahnya mencapai kisaran lima sampai enam orang. Angka tersebut tergolong  tinggi dibanding sebelum DBD ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Sementara hingga kemarin Rabu (24/9), lanjut Sinto, masih terdapat sebanyak 20 pasien DBD menjalani perawatan di RSUD Sintang. “Semua (pasien DBD) anak-anak,” uapnya.

Terhitung sejak Januari hingga pertengahan September atau minggu ke -33, RSUD Sintang sudah menangani 286 pasien DBD. Delapan pasien di antaranya meninggal dunia. Data tersebut merupakan semua pasien yang menjalani perawatan, dan bukan hanya berasal dari Sintang.

Ia pun berharap masyarakat bisa waspada terhadap penyebaran nyamuk penyebab DBD. Kemudian bila menemukan anggota keluarga dengan gejala demam, selama tiga hari tidak kunjung turun panasnya, terutama yang masih anak-anak, agar segera dibawa ke rumah sakit.

“Kita lebih baik waspada ketimbang terlambat. DBD harus cepat ditangani sebelum kondisinya syok,” kata Sinto.

Pasien DBD yang meninggal, lanjut Sinto, hampir semua kasusnya karena keterlambatan ditangani. Bila sudah parah, pasien DBD bisa keluar darah dari mulut maupun hidung. (din/red)