Sekilas Info

Shatadru Chattopadhayay: Posisi EPOA Terhadap Larangan Pemerintah Sri Lanka Atas Minyak Sawit

Shatadru Chattopadhayay.

SINTANG | SenentangNews.com – Dari rilis yang disampaikan melalui Kulbir Mehta, Country Director Solidaridad for Indonesia, Rabu (5/52021), Dr. Shatadru Chattopadhayay Managing Director Solidaridad Asia berbicara terkait kebijakan Pemerintah Sri Langka yang menolak impor minyak kelapa sawit untuk negaranya. Mengawali rilisnya Shatadru mengatakan bahwa Organisasi The European Palm Oil Alliance (EPOA) kecewa berat terhadap kebijakan tersebut.

Solidaridad adalah lembaga luar negeri yang memiliki perwakilan di banyak negara termasuk di Indonesia. Di Kalimantan Barat, Solidaridad telah bekerjasama dengan beberapa lembaga termasuk di kabupaten Sintang, Melawi dan Sekadau. Kegiatannya antara lain pelestarian lingkungan dan menyelenggarakan Sekolah Lapang untuk para petani sawit swadaya/mandiri. Juga sebagai pendukung kegiatan Kabupaten Lestari, khususnya di kabupaten Sintang.

Catatan tentang Shatadru Chattopadhayay, MD Solidaridad Asia ini pernah mengunjungi kabupaten Sintang bersama rombongan Indian Palm Oil Delegation bertemu dengan Bupati Sintang Jarot Winarno pada 18-19 Juli 2018 lalu. Rombongan terdiri dari orang-orang yang berperan menjadikan negara India sebagai pembeli terbesar produk CPO dari Indonesia. Antara lain Atul Chaturvedi, CEO South and South East Asia Adani Wilmar, sebuah group agribisnis terkemuka di Asia. Atul juga President Solvent Extractor Association (SEA). Ada juga Executive Director SEA, BV. Mehta serta Managing Director Data Oils Vijay Data; President Godrej Industries Vikas Sharma dan CV. Rao dari Godrej Agro.

Menyoroti situasi di Sri Lanka ini, Shatadru mengatakan bahwa negara lain diwilayah itu, seperti India, Bangladesh dan Pakistan juga mengimpor dan memproduksi kelapa sawit. Dia mencatat bahwa mereka perlu mengembangkan Aliansi Minyak Sawit Asia (Asian Palm Oil Alliance) menuju Sawit Berkelanjutan, sejalan dengan Aliansi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Alliance). Karena isu tentang keberlanjutan minyak sawit menjadi perhatian utama di Eropa. Aliansi ini harus terdiri dari negara-negara yang memproduksi dan mengkonsumsi minyak sawit utama di Asia.

Itu akan memastikan bahwa mereka dapat mengembangkan kerangka kerja bersama Asia untuk Minyak Sawit Berkelanjutan, dan bergerak menuju diskusi yang lebih seimbang dan berbasis ilmu pengetahuan, dengan Panel para ilmuwan dari negara-negara yang memproduksi dan mengkonsumsi minyak sawit, untuk menyediakan umpan balik berbasis ilmu pengetahuan tentang berbagai manfaat produk bagi kesehatan.

“EPOA sepenuhnya berkomitmen untuk mempromosikan penggunaan kelapa sawit yang berkelanjutan sebagai alternatif terhadap minyak sawit konvensional. Kelapa sawit, sejauh ini, merupakan tanaman penghasil minyak yang paling banyak digunakan dan paling produktif di dunia,” tulis Shatadru.

Jika diproduksi dan dihasilkan secara berkelanjutan, kelapa sawit dapat berperan penting dalam menyediakan permintaan dunia yang meningkat terhadap minyak goring. Yang pada saat yang sama memainkan peran kunci dalam mendukung mata pencaharian jutaan petani kecil di seluruh dunia (penelitian oleh University of Göttingen)

Menurut Shatadru, kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat efisien, yang mampu menyuplai minyak secara luas dan relatif murah. Minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit mewakili 40 persen dari produksi minyak nabati global. Minyak sawit memiliki hasil panen tertinggi dibandingkan tanaman minyak lainnya dalam satu hektar lahan. Satu hektar pohon kelapa sawit menghasilkan rata-rata 3,8 ton minyak setiap tahun.

Ada 7,4 persen lahan kelapa sawit yang diolah untuk minyak secara global, dan memiliki hasil produksi tertinggi yaitu 39,6 persen untuk semua minyak dan lemak. Ada sekitar 73 juta ton minyak sawit diproduksi setiap tahunnya. Menurut World Wildlife Fund (WWF), Untuk mendapatkan jumlah yang sama dari penghasil minyak sejenis, seperti kedelai atau minyak kelapa, akan dibutuhkan lahan antara 4 sampai 10 kali lebih banyak,

Dan mengenai deforestasi, tampaknya berkembang ke arah yang benar. WWF dan World Resources Institute (WRI) mengamati bahwa tahun 2020 merupakan tahun keempat berturut-turut dimana tren deforestasi kelapa sawit telah menurun ke tingkat historis.

Kelapa sawit telah digunakan dalam penyajian makanan selama lebih dari 5 ribu tahun. Sekarang, seluruh dunia menggunakannya sebagai minyak goreng, margarin dan mentega. Kelapa sawit juga digunakan dalam campuran lemak dan beragam produk makanan. Minyak sawit adalah minyak goreng yang sehat dan terjangkau serta sumber nutrisi bagi jutaan konsumen di negara berkembang. Minyak sawit juga banyak digunakan di dalam produk rumah tangga dan perawatan pribadi.

Tidak ada alternatif yang realistis untuk minyak sawit bagi sebagian besar penggunaannya dan negara. Kelapa sawit memberikan peluang mata pencaharian yang lebih besar bagi banyak petani dan juga bagi para petani di Sri Lanka dan pekerja sambil menghemat devisa bagi negara mereka.

Larangan kelapa sawit kemungkinan besar akan berdampak pada meningkatkan biaya makanan bagi para konsumen di Sri Lanka. Dan ini berarti akan lebih banyak lagi lahan perkebunan yang dibutuhkan untuk memproduksi minyak nabati alternatif. Larangan menyeluruh terhadap produksi minyak sawit, akan menghilangkan peluang bagi para produsen kecil untuk menanam produk mereka sendiri (yang menguntungkan). Akankah mereka mampu menemukan pengganti yang baik?

Di dalam teks pemerintah yang muncul baru-baru ini, kami memperhatikan bahwa ada kalimat berikut yang menjadi alasan pelarangan kelapa sawit: pernyataan yang ditujukan kepada Presiden menyebutkan bahwa produksi kelapa sawit menyebabkan erosi tanah, pengeringan air sehingga mempengaruhi keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat.

Tidak ada analisis ilmiah yang mampu mendukung pernyataan tersebut. Sebagai contoh seperti yang ditunjukkan oleh University of Göttingen, Wageningen University dan RSPO, minyak sawit dapat diproduksi secara berkelanjutan. Sri Lanka sudah membuktikannya yaitu dengan memiliki lokasi produksi minyak sawit bersertifikasi RSPO. Jika perkebunan yang ada harus ditumbangkan dan pohon-pohonnya dihancurkan, ini akan menjadi pemborosan modal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak akan mudah untuk diganti.

“Kami sangat percaya bahwa mempromosikan produksi dan perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan, adalah cara yang jauh lebih efektif daripada memperkenalkan pelarangan sebagai instrumen proteksionisme atau penghalang non-perdagangan. Regulasi apapun yang dibuat harus menciptakan lapangan bermain yang setara untuk semua minyak nabati terlepas dari area produksinya dan seharusnya tidak terlalu mendiskriminasi minyak sawit secara khusus.”

EPOA sangat mendukung pengembangan kelapa sawit berkelanjutan yang akan terbukti positif bagi semua yang terlibat (termasuk lingkungan/deforestasi, keanekaragaman hayati dan ekonomi lokal). EPOA bersedia berkontribusi untuk penelitian ilmiah multi-negara tentang dampak produksi minyak sawit di Sri Lanka. Dan akan mengusulkan untuk mencabut larangan impor minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan setidaknya untuk saat ini.

“EPOA adalah pemrakarsa bisnis penyulingan dan produsen minyak sawit. Kami percaya bahwa minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan adalah bahan makanan utama yang sesuai dengan pola makan bergizi seimbang dan membantu memberi makan dunia, melindungi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan pembangunan sosial-ekonomi. Kami mendorong transformasi pasar minyak sawit berkelanjutan dan mendukung para pemrakarsa yang berkomitmen pada minyak sawit berkelanjutan di seluruh Eropa,” tulis Shatadru.

Penulis: Kris Lucas