Sekilas Info

Dijamin Pasar Tetap BAM

Kakao, Komoditas Alternatif Menjanjikan

Yohana Tamara di pusat pembibitan kakao yang dikelolanya

SINTANG | SenentangNews.com - Kisah anjloknya harga karet di Kalimantan Barat (Kalbar) bukan cerita baru. Persoalan ini sudah menjadi keluhan petani dari tahun ke tahun. Jaman keemasan di tahun 2009-2011, dimana harga komoditas ini mencapai Rp. 16 ribu - Rp. 18 ribu per Kg, sepertinya tidak akan pernah terulang lagi.

Yang lebih mengecilkan hati, dua buah pabrik karet remah berorientasi ekspor dalam waktu hampir bersamaan di tahun 2015 telah ditutup. Yaitu pabrik milik swasta murni di Sungai Putih kapasitas 4000 Ton per bulan dan pabrik milik PTPN XIII di Nanga Jetak. Namun sebagian petani ada yang masih berharap, bahwa suatu saat karet akan mengalami booming kembali.

Meski tidak lagi menjanjikan, hubungan emosional antara petani karet dengan kebunnya masih tetap erat. Di Kalbar ini, dari generasi ke generasi tanaman karet adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kehidupan para petaninya. Di saat orang ramai-ramai menanam sawit mandiri, para petani karet tetap merasa sayang untuk memusnahkan kebun karetnya. Lebih baik membuka lahan baru jika ingin menanam sawit. Serendah apapun harganya, toh tetap menghasilkan uang.

Disaat harga karet per Kg masih diatas harga beras per Kg, banyak tanaman lain yang ditawarkan sejumlah lembaga. Salah satunya yang sempat menarik perhatian petani adalah jati mas. Di kabupaten Sintang, masih dapat dilihat di beberapa tempat kebun jati mas milik warga. Sebagian terkesan seperti tidak terurus.

Kakao Sebagai Komoditas Alternatif

Sensus dan pemeliharaan oleh para pengawas

Berkebun kakao, tidak harus membuka lahan baru. Karena tanaman ini dapat ditumpang-sarikan dengan pohon karet atau tanaman berbatang tinggi lainnya. Bahkan jika akan menanam di hutan sekunder, tidak perlu menggundulkan hutannya karena cukup ditumpang-sarikan. Keterangan tentang kakao ini diperoleh dari Yohana Tamara.

Menurut Ara, begitu dirinya biasa disapa, saat ini dirinya tengah mengelola pembibitan kakao di Tapang Sambas kabupaten Sekadau. Untuk sementara ini tempat pembibitannya masih berkapasitas 40.000 bibit saja. Pembibitan ini dibawah bendera Betang Agro Mandiri (BAM) dari Keling Kumang Group.

“Yang sudah tersalurkan ada 15.000 bibit, semuanya anggota CU Keling Kumang. Dan stok yang sudah siap edar ada 18.000 bibit. Harga untuk anggota Keling Kumang Rp. 17.000,- dan harga untuk umum Rp. 18.000,-. Sekarang masih harga promo Rp. 16.000,- per bibit,” tutur Ara, Senin (19/6/2020) sore di Tapang Sambas.

Bibit di BAM ini semuanya bibit unggul klon MCC dan Sulawesi. Bibit ini juga telah lolos di Balai Pengawasan Sertifikasi Mutu Benih, dan dibawah pengawasan unit sertifikasi edar mutu benih dari Dinas perkebunan provinsi Kalbar. BAM juga melakukan pelatihan budidaya dua kali dalam setahun, mendatangkan ahlinya dari provinsi dan luar Kalbar. BAM juga memberikan buku panduan dan konsultasi on-line.

“Bertani kakao bersama BAM aman bagi petani, karena hasil pertaniannya akan dibeli oleh BAM juga. BAM sudah punya perikatan dengan perusahaan pembeli yang tidak tergantung kuota. Tujuan utama semua program ini adalah kesejahteraan masyarakat. Petani kakao harus sejahtera, karena bibit tersedia dan sudah punya pasar,” pungkas Ara. (*)

Penulis: Kris Lucas
Baca Selanjutnya Pemkab Sekadau Raih WTP Ke-8