Sekilas Info

Tak Puas Hasil Musdes BLT DD

Warga Tiga Dusun Segel Kantor Desa Benua Kencana

Suasana saat warga tiga dusun unjuk rasa di depan kantor desa benua kencana

SINTANG | SenentangNews.com – Warga tiga buah dusun di desa Benua Kencana kecamatan Tempunak, Selasa (16/6/2020) menggelar unjuk rasa di kantor desa. Peristiwa ini, dipicu oleh ketidakpuasan warga terhadap hasil Musyawarah Desa (Musdes) Khusus tentang validasi, finalisasi dan penetapan Kepala Keluarga (kk) Calon Penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLTDD) Tahun 2020.

Tiga dusun yang melakukan unjuk rasa tersebut, adalah dusun Layang Mentari, dengan koordinator Antonius Ajad. Dusun Balai Penembah, dengan koordinator Revanus Langkan. Dan dusun Balai Temenggung, dengan koordinator A. Adun.

Menurut Koordinator Dusun Layang Mentari, Antonius Ajad, ketidak puasan terhadap hasil Musdes yang dilaksanakan tanggal. 10 Juni tersebut, sudah dituangkan dalam surat pemberitahuan kepada Camat Tempunak dengan tembusan kepada Ketua BPD.

“Tentang alasan penyegelan sementara kantor desa, itu karena ditengah kemelut ini tiba-tiba Kepala Desa meninggalkan tempat. Dan kami sudah memberi waktu 2 x 24 jam, agar Kepala Desa segera kembali ke desa,” terangnya.

Camat Tempunak, Kiyang saat dikonfirmasi turut menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut. Menurutnya, memang ada beberapa kekeliruan disana. Misalnya, pembentukan tim relawan Covid-19 tidak melalui rapat. Tidak ada rapat kerja tim tentang penetapan kriteria rumah tangga miskin (RTM) yang berhak dibantu. Tidak ada pendataan dari Ketua RT, alasannya Ketua RT tidak berada di tempat karena bekerja di Bukit Ringas. Sehingga pendataan diambil alih oleh Kepala Dusun.

Awalnya setiap Kepala Dusun oleh Kepala Desa hanya dijatah tujuh kk. Jadi untuk tiga dusun jumlahnya 21 kk. Tiba-tiba Dalam Rapat Musdes khusus sudah ditetapkan Kepala Desa jumlahnya menjadi 29 kk. Padahal seharusnya dalam Musdes khusus baru akan menetapkan berapa si kk yang disepakati untuk mendapatkan BLT DD tersebut.

“Sehingga warga menduga bahwa Musdes tersebut hanya formalitas, sekedar untuk mendapatkan tanda tangan dari peserta yang hadir. Daram rapat ini pun tidak ada forum urun rembuk atau tanya-jawab. Selesai rapat, langsung membagikan BLT DD kepada 29 kk yang terdaftar. Warga tidak setuju, karena diluar dari yang 29 kk tersebut masih banyak yang layak menerima bantuan,” tutur Kiyang.

Kiyang juga menyesalkan, mengapa kepala Desa harus lari ke Sintang. Sehingga warga harus memberi waktu 2 x 24 jam agar Kepala Desa segera kembali ke desa untuk bertemu dengan para koordinator dari tiga dusun.

“Seandainya kades tidak lari dari desa dan siap untuk bertemu warga, permasyalahannya tidak akan panjang. Karena dia lari, warga menjadi marah dan menyegel kantor untuk sementara. Ini karena mereka merasa tidak dihargai oleh Kepala Desa,” pungkas Kiyang

Sayang, hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Benua Kencana, Musmuliadi, tidak berhasil dihubungi guna dikonfirmasi. (*)

Penulis: Kris Lucas