Sekilas Info

Askiman Sosialisasikan Perbup No. 31 Tahun 2020 Terkait Tata Cara Pembukaan Lahan

Karjito, Askiman dan Yustinus saat acara sosialisasi

SINTANG | SenentangNew.com – Sepekan sebelum Peraturan Bupati (Perbup) Sintang No. 31 Tahun 2020 disosialisasikan, Perbup yang mengatur tentang tata cara pembukaan lahan ini cukup meresahkan para peladang. Berbagai pendapat pun bermunculan. Mulai dari menyesalkan perumusannya tidak melibatkan wakil para peladang, hingga ada wacana akan ada kegiatan unjuk rasa untuk menolak Perbup ini.

Keresahan para peladang ini dapat dimaklumi. Mengingat peristiwa persidangan enam orang peladang di Pengadilan Negeri Sintang baru saja usai pada bulan awal bulan Maret 2020 lalu.

Perbup No. 31 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Sintang No 18 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pembukaan Lahan Bagi Masyarakat di Kabupaten Sintang ini, disosialisasikan pada hari Selasa (16/6/2020). Untuk di kecamatan Sungai Tebelian, sosialisasi ini menghadirkan nara sumber terdiri dari Wakil Bupati Sintang Askiman dan Asisten II Setda Sintang, Yustinus.

Acara sosialisasi di Sungai Tebelian, dihadiri oleh 26 Kepala Desa se Kecamatan Sungai Tebelian, sejumlah unsur pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Forkopimcam Sungai Tebelian. Kegiatan yang dimulai Pukul. 09.00 ini, dibuka oleh Sekretaris Kecamatan Sungai Tebelian, Karjito. Turut hadir sejumlah organisasi masyarakat lokal, seperti organisasi Persatuan Dayak Linuh.

Dalam acara tersebut, Yustinus membacakan seluruh Pasal dan Ayat dalam Perbup No. 31 Tahun 2020, disertai dengan sejumlah penjelasan. Sementara Askiman lebih fokus kepada tinjauan historis, religi, sosiologis serta tinjauan filosofis atas Perbup tersebut.

Wakil Bupati Sintang ini, juga melengkapi tentang siapa yang disebut sebagai Petani Tradisional dalam Perbup. Yang dalam ketentuan umum Perbup tidak disebutkan definisinya secara jelas. Nanti semua bisa mengaku sebagai petani tradisional, sehingga semua boleh membakar lahan. Askiman juga memaparkan tentang kearifan lokal tradisi ladang berpindah yang tidak merusak hutan.

Acara ini dipungkas dengan sesi Tanya-jawab. Tercatat ada beberapa penanya, diantaranya Kades Sungai Ukoi Sebastian Jaba, Pengurus Dayak Linoh dari desa Bancoh Hermansyah, Pj. Kades Baya Mulya Stevanus Santapsius, Pj. Kades Kunyai Merry, dan beberapa orang lainnya.

Suasana acara sosialisasi perbub no 31 tahun 2020 di gedung serbaguna sungai tebelian

Kepada SenentangNews.com secara khusus Askiman menjelaskan, bahwa Perbup No. 31 Tahun 2020 yang ditetapkan pada tanggal. 5 Juni 2020 ini, adalah merupakan perubahan atas Perbup No. 18 Tahun 2020 yang ditetapkan pada tanggal. 3 April 2020. Mengapa baru dua bulan sudah ada perubahan, karena Perbup No. 18 Tahun 2020 sudah masuk lembaran daerah. Jika ada perubahan maka harus dibuat Perbup perubahan.

Perbup ini tidak berdiri sendiri, karena mengacu kepada Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sintang No. 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kabupaten Sintang. Perbup No. 31 Tahun 2020 ini adalah merupakan aturan pelaksanaan dari Perda No. 1 Tahun 2016 tersebut. Sedangkan Perda tersebut mengacu kepada UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Keliru, jika ada yang mengatakan bahwa pembuatan Perbup ini hanya mengacu kepada tinjauan yuridis. Keliru, jika Perbup disebutkan tidak ada tinjauan religi, sosiologis dan filosofisnya. Itu semuanya sudah lengkap pada konsideran Perda No 1 Tahun 2016.

Terhadap pertanyaan, mengapa pada saat membuat Perbup tidak melibatkan perwakilan masyarakat adat dan masyarakat yang masih taat akan kearifan lokal. Menurut Askiman, pelibatan masyarakat ada pada saat pembuatan Perda. Itu pun pihak DPRD yang menjaring aspirasi dari masyarakat. Setelah itu DPRD membahas bersama pihak eksekutif. Perda dibuat atas persetujuan bersama DPRD dan Bupati Sintang. (*)

Penulis: Kris Lucas