Sekilas Info

Cegah DBD dan Penularan di Kabupaten Sintang Dengan Cara Berikut

CATATAN: Valentina Riska Pratiwi

SINTANG | SenentangNews.com- Demam Berdarah Dengue menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup tinggi di wilayah tropis sehingga menimbulkan dampak sosial hingga ekonomi. Penyakit DBD merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yang mudah dikenali dari warna dan bentuk tubuhnya yaitu memiliki tubuh berwarna hitam dengan belang putih ditubuhnya, serta nyamuk Aedes aegypti memiliki ukuran tubuh yang kecil.

Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina, karena hanya nyamuk betina yang menghisap darah. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan asupan protein untuk memproduksi telur. Nyamuk betina akan mengeluarkan telurnya dan berkembangbiak pada tempat-tempat penampungan air, vas bunga, kaleng-kaleng, tempurung kelapa, ban-ban bekas, bentuk-bentuk container yang dapat menampung air, serta tempat yang agak gelap dan lembap untuk menunggu proses pematangan telurnya.

Nyamuk Aedes aegypti aktif mencari mangsa dan mengigit manusia dengan dua puncak waktu yaitu di pagi hari sekitar 2 jam setelah matahari terbit (08.00-10.00) dan sore hari sebelum matahari terbenam (15.00-17.00). Gigitan nyamuk Aedes aegypti pun terkadang tidak disadari, sebab nyamuk ini biasanya menghampiri dari belakang tubuh dan menggigit di bagian siku atau pergelangan kaki. Gejala umum DBD timbul 4-7 hari setelah gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan dapat berlangsung selama 10 hari. Beberapa gelaja demam berdarah yaitu demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius, nyeri pada sendi, otot, dan tulang, nyeri pada bagian belakang mata, nafsu makan menurun, mual dan muntah, perdarahan dari gusi, hidung, atau dibawah kulit, hingga munculnya ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam.

Salah satu daerah endemis DBD di Indonesia adalah Provinsi Kalimantan Barat, yaitu dengan jumlah kasus dan penyebarannya pada tahun 2002 sebanyak 1920 kasus dan meninggal 30 orang. Tahun 2006 sebanyak 2674 kasus dengan 35 orang meninggal.Tahun 2009 sebanyak 9818 kasus dan 173 diantaranya meninggal.Sampai saat ini per April 2012 sebanyak 263 kasus dan meninggal 4 orang. Dari data tersebut dapat disimpulkan terjadi siklus 3 atau 4 tahunan peningkatan kasus DBD di Kalimantan Barat. Kabupaten Sintang merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat dengan kasus DBD yang tinggi yaitu sebesar 139 pada tahun 2008.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang diperoleh informasi angka incidence rate untuk tahun 2015 sebesar 29.52 per 100.000 penduduk. Angka incidence rate di Kabupaten Sintang pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 40.03 per 100.000 penduduk dan meningkat kembali pada tahun 2017 menjadi sebesar 74.53 per 100.000 penduduk.
Upaya pengendalian dari nyamuk Aedes aegypti dengan memutus rantai penularan dapat dilakukan dengan membunuh vektor (nyamuk Aedes Aegptyi) seperti dengan pengasapan atau yang lebih dikenal dengan istilah fogging, dan abatisasi.

Meskipun demikian, penggunaan abatisasi secara terus-menerus dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti menyebabkan resistensi, pencemaran lingkungan, serta persoalan kesehatan masyarakat karena efek karsinogenik dari abate itu sendiri. Serta dampak dari penggunaan fogging yang dilakukan terhadap vektor (nyamuk aedes aegypti) dinilai cepat akan tetapi dapat meningkatkan resistensi (kekebalan) nyamuk terhadap insektisida.

Untuk mencegah meningkatnnya penyebaran penyakit DBD diperlukan upaya-upaya atau metode baru yang lebih aman dan ramah lingkungan namun efektif dalam memberantas nyamuk maupun jentik nyamuk, salah satu metode yang dapat digunakan adalah biolarvasida dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti tanaman sereh, daun jeruk nipis, kecombrang, lavender, daun sirih hijau dan berbagai jenis bahan alami lain yang mudah ditemukan di daerah Kalimantan Barat.

Selain biolarvasida, metode ramah lingkungan lain yang dapat dilakukan adalah pengendalian secara biologi dengan menempatkan ikan-ikan predator jentik nyamuk pada bak-bak penampungan air, jenis-jenis ikan yang dapat digunakan adalah ikan yang mudah diakses oleh masyarakat, beberapa diantaranya adalah ikan cupang, ikan guppy, dan ikan mas.

Peran masyarakat sangat penting dalam pemberantasan DBD, maka perlu dilakukan sosialisasi masyarakat sejak dini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar senantiasa memperhatikan kebersihan lingkungan dan genangan air di sekitaran rumah yang memungkinkan menjadi tempat perkembangan nyamuk Aedes Aegpty sehingga dapat menekan laju pertumbuhan dari vektor DBD itu sendiri. (red)

Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta