Disdikbud Sintang Berduka, Yustinus : Kami Kehilangan Tokoh Pejuang Pendidikan

94
Puluhan kerabat dan rekan kerja di ruang lingkup Dians Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang mendatangi RSUD Ade M. Djoen Sintang

SINTANG | SenentangNews.com – Peristiwa penusukan Kepala SDN 24 Mensiap Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang mambawa duka terdalam bagi dunia pendidikan di Kabupaten Sintang.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Yustinus mengungkapkan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang berbelasungkawa atas peristiwa yang terjadi terlebih lagi korban termasuk sosok yang sangat komunikatif dan ramah kepada warga masyarakat.

“Kami sangat terkejut saat tahu peristiwa tersebut. Tentu kita prihatin. Kami kehilangan termasuk tokoh pejuang pendidikan yang ada di Mensiap Baru. Sangat disayangkan sekali, mengapa kejadian ini bisa terjadi,” ucapnya ketika ditemui di RSUD Ade M Djoen, Kamis (17/10/2019).

Yustinus berharqp pihak Kepolisian dan aparat yang berwenang dapat memberikan sanksi sesuai hukum yang berlaku terlebih lagi korban adalah pejuang pendidikan yang bahkan saat meninggal dunia pun masih menggunakan seragam tugas dan akan berangkat tugas.

“Saya mendapatkan informasi sekitar pukul 07.10 WIB, kami langsung ke TKP namun saat diperjalanan kami bertemu rombongan jenazah yang membawa jenazah ke RSUD Ade Djoen Sintang untuk dilakukan visum akhirnya kami kembali kesini,” tuturnya.

Kepala SDN 13 Tempunak, Bakri

Kepala SDN 13 Tempunak, Bakri mengaku terkejut dengan peristiwa penusukan tersebut terlebih lagi dirinya sempat melakukan komunikasi dengan korban via telepon selular membahas kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan.

“Saya sudahlama kenal dengan beliau bahkan tadi sempat telponan tapi tak ada yang aneh saat itu. Beliau ini dikenal sangat baik, ramah, tidak banyak bicara, makanya saya terkejut begitu mengetahui adanya peritiwa ini terlebih lagi menimpa beliau yang cukup baik. Kami sangat berduka,” katanya.

Sementara itu, salah satu anak korban, Agung mengungkapkan bahwa Ayahnya telah diintai oleh tersangka bahkan sejak subuh hari usai korban melakukan sholat shubuh. Agung juga mengaku terkejut begitu mengetahui bahwa Ayahnya tewas saat akan berangkat ke tempat tugas.

“Memang ada konflik keluarga namun inti permasalahan bukan di Bapak. Jika memang tidak suka kenapa tidak dibicarakan baik-baik kenapa harus begini. Saya minta pihak berwajib dapat bertindak secara adil dengan memberikan hukuman setimpal,” tukasnya. (Uli)