Sekilas Info

Gawai di Binjai Hilir Dibuka Kadis DPMPM

Julian Sahri dan Herkolanus Roni bersama para Kepala Desa dan tokoh masyarakat, sesaat sebelum acara pembukaan dimulai

SINTANG | SenentangNews.com –“Kita masih beruntung, karena kita masih punya wadah untuk mengungkapkanrasa syukur bersama secara adat, yaitu dalam acara Gawai Dayak.”Pendapat tersebut, dikatakan oleh anggota DPRD Sintang, Julian Sahri,disela acara pembukaan Dawai Dayak di dusun Suka Jaya desa Binjai Hilir, hari Senin malam lau (1/7/2019).

Menurut Julian yang juga Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Tingkat Kecamatan Binjai Hulu ini, acara Gawai Dayak adalah pesta syukuran atas berkat dan keselamatan, juga sebagai penanda pergantian siklus masa perladangan. Dimasa sekarang, setelah ladang berpindah mulai berkurang,acara Gawai untuk bersyukur atas hasil dari kebun sawit dan kebun karet. Juga atas keberhasilan warga yang berprofesi lain.

Gawai Dayak di dusun Suka Jaya desa Binjai Hilir ini, rutin dilaksanakan setiap tahun. Warga bahu-membahu untuk menyelenggarakan acara ini. Gawai tahun 2018 lalu, dibuka oleh Ketua DPRD Sintang Jeffray Edward yang juga Ketua Umum DAD Kabupaten Sintang. Untuk Gawai kali ini, kami mengundang Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPM PM), Hekolanus Roni.

“Ini adalah bagian dari pembinaan kepada masyarakat. Dihari yang sama, juga ada acara Gawai di desa Telaga Dua. Acara disana dibuka oleh Ketua Umum DAD Kabupaten Sintang Jeffray Edward dan dihadiri oleh Camat Binjai Hulu, Kusnidar. Warga sub suku Dayak yang ada di kecamatan Binjai Hulu ini, adalah bagian dari warga sub suku Dayak Ketungau Subaruk. Sebaran sub suku Ketungau Subaruk ada di sejumlah kecamatan, yaitu di Ketungau Hulu, Ketungau Tengah, Ketungau Hilir dan Sintang,” tutur Julian.

Sementara, Roni yang juga Sekretaris Umum DAD Sintang ini berharap acara warisan budaya nenek moyang ini tidak sekedar seremoni. Tetapi betul-betul untuk bersyukur atas berkat, rahmat dan rejeki yang Tuhan berikan. Pemerintah melindungi masyarakat adat sepanjang masih masih eksis. Dalam UU 1945 jelas disebutkan, bahwa Pemerintah melindungi masyarakat adat sepanjang masih ada.

“Pemahaman masih ada, masyarakat adatnya masih ada, hukum adatnya masih ada, dan pelestarian budayanya masih dilakukan. Seperti yang kita lakukan sekarang, kita masih melestarikan adat budaya kita secara konsisten,” ucap Roni.

Roni juga menginformasikan, bahwa Pemerintah Kabupaten Sintang adalah salah satu kabupaten/kota yang memiliki Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2015 tentang Pengakuan Masyarakat Adat dan Kelembagaan Adat. Dalam UU No. 6 Tahun 2014 ada dua kewenangan desa. Kewenangan asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa.Semestinya, Pemerintah Desa melakukan pembinaan terhadap sanggar-sanggar yang ada di desa masing-masing yang di SK kan oleh Kepala Desa.

Mantan Kepala Bagian Hukum Setda Sintang ini, juga mengapresiasi bahwa masyarakat adat setempat telah membangun Rumah Betang. Dimana progres pembangunan fisiknya sekarang telah mencapai 80 persen. Roni berharap, pada Gawai Dayak tahun 2020 nanti acara pembukaan Gawai Dayak sudah dapat dilaksanakan di Rumah Betang.

Menurut Kepala Desa Binjai Hilir Flasidius Birin, diperoleh informasi bahwa jumlah penduduk dusun Suka Jaya desa Binjai Hilir ini ada 171 KK. “Di kabupaten Sintang ini, ada sejumlah desa yang penduduknya lebih sedikit dari jumlah penduduk dusun Suka Jaya,” terangnya.

Acara pembukaan Gawai Dayak di dusun Suka Jaya ini, kepanitiaannya diketuai oleh Akim didampingi Ketua DAD desa Binjai Hilir Lukas Buan. Nampak hadir perwakilan dari Kepolisian Sektor Binjai Hulu dan sejumlah Kepala Desa tetangga. (lcs)