Wujudkan Kalimantan Barat Bebas Krisis Air Bersih

1031
Angelia Astria

CATATAN: Angelia Astria

SINTANG | SenentangNews.com- “Air adalah prinsip dasar segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada dialam semesta. Air adalah sumber kehidupan, dan tanpa air mahluk hidup pasti akan mati” kutipan dari pemikiran Thales sebagai bapak filsafat tersebut menunjukkan betapa pentingnya air bagi kehidupan. Air berhubungan dengan hak hidup seseorang sehingga air tidak bisa dilepaskan dalam kerangka hak asasi manusia, dalam hal tersebut mengindikasikan bahwa perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk mendapatkan air dan sebagaimana hak-hak asasi manusia lainnya, negara wajib memenuhi kebutuhan air bagi seluruh masyarakat.

Resolusi hak atas air ditegaskan melalui Deklarasi Millenium yang mencetuskan proyek MDGs (Millenium Development Goals) yang merupakan komitmen para kepala negara atau pemerintahan anggota PBB untuk memerangi kemiskinan global antara 2000-2015 ,air bersih dan sanitasi merupakan sasaran MDGs (Millenium Development Goals) yang ketujuh dimana setiap negara wajib menyediakan akses air bersih dan sanitasi yang memadai bagi masyarakat yang saat ini belum bisa menikmatinya.Proyek MDGs telah berakhir ditahun 2015 dan digantikan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) yang diagendakan dari tahun 2015-2030.

Air bersih dan sanitasi merupakan tujuan keenam (SDGs 6) dimana penjaminan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang. Berdasarkan SDGs 6, setiap orang di muka bumi harus memiliki akses terhadap air minum yang aman dan terjangkau termasuk provinsi Kalimantan Barat yang merupakan Provinsi dengan julukan seribu sungai. Melalui tema leave no one behind yang diangkat pada peringatan Hari Air Sedunia pada tahun ini, saya sebagai mahasiswa yang peduli akan lingkungan dan penduduk asli Kalimantan Barat turut prihatin akan keterbatasan air bersih di Provinsi kelahiran saya.

Berdasarkan data statistik kependudukan, pertambahan penduduk di Kalimantan Barat meningkat secara signifikan dari tahun 2016 hingga tahun 2018, semester 2 tahun 2018 jumlah penduduk di Kalimantan mencapai 5.422.814 jiwa. Pertambahan penduduk tersebut beriringan dengan meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Namun sayangnya, Provinsi yang masih memiliki cadangan air tanah (green water) dan berlimpah sumber daya air ini ternyata masih mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

Pemerintah menggolongkan sumber air bersih sebagai sumber air bersih yang bisa diminum dan bukan sumber air bersih yang bisa diminum. Berdasarkan SUSENAS tahun 2011, BPS Kalimantan Barat sumber air bersih yang bisa diminum di Kalimantan Barat hanya 30,81% yang terdiri dari 9,72% air isi ulang, 7,49% mata air terlindung, 5,57% sumur terlindung, 3,25% PAM/ledeng, 2,55% air kemasan, 2,28% sumur gali/pompa, dan 0,40% ledeng eceran. Dari tahun 2015-2016, presentase rumah tangga menurut sumber air minum layak menurun dari 68,39% ke 66,19% sedangkan dari tahun 2016-2017 meningkat kembali menjadi 68,77% namun angka tersebut masih berada di bawah rata-rata se-Indonesia.

Penyediaan air bersih di Kalimantan Barat dilayani oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah yaitu PDAM. Sampai tahun 2015, perusahaan air bersih menurut status kepemilikan perusahan/usaha berjumlah 28 dan kepemilikan pemerintah daerah. Dengan jumlah tersebut tentu belum bisa menjangkau semua orang apalagi ditambah dengan apabila musim kemarau pihak PDAM mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, seperti informasi yang dilaporkan bulan Agustus tahun lalu di kota Pontianak dimana pada musim kemarau, air kadang tidak mengalir dan terasa asin. Keterbatasan penyediaan air bersih yang bisa diminum cukup memprihatinkan karena dibeberapa daerah di Kalimantan Barat terpaksa mengkonsumsi sumber air bersih yang tidak bisa diminum seperti air hujan, sumur tidak terlindung, mata air tidak terlindung, dan air sungai.

Masalah yang Berkembang

Dewasa ini permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat dalam kaitannya dengan sumber daya air adalah kerusakan sumber-sumber air yang menyebabkan penurunan kuantitas, kualitas dan kontinuitas ketersediaan sumber daya air serta masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sumber air bersih. Pengetahuan masyarakat menjadi sangat penting karena aktivitas masyarakat berpengaruh langsung terhadap lingkungan. Sedangkan pendidikan masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah. Oleh sebab itu sinergi antar pemerintah dan masyarakat sangatlah penting dalam menanggapi masalah air bersih di Kalimantan Barat saat ini.

Beberapa aktivitas yang menyebabkan krisis air bersih dan masih berlangsung sampai saat ini adalah alih lahan untuk perkebunan sawit yang menyebabkan berkurangnya debit air sungai seperti yang dilaporkan oleh Taufiq dkk tahun 2013 dalam Jurnal Pengairan dimana tanaman sawit yang berada di wilayah Sub DAS landak berdampak mengurangi debit air. Permasalahan sumber daya air juga diperparah oleh adanya limbah dan percemaran sumber air yang menurunkan mutu air lingkungan.

Sejak tahun 2013 sungai Kapuas yang menjadi sumber air di Kalimantan Barat sudah tercemar oleh bakteri coliform seperti yang dilaporkan oleh Siti Khotimah dalam prosiding semirata FMIPA Universitas Lampung, sehingga air sungai Kapuas sudah tidak layak untuk dikonsumsi dimana sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001 tentang persyaratan air minum. Selain itu, aktivitas PESK (Pertambangan Emas Skala Kecil) di sepanjang sungai di Kalimantan Barat yang semakin marak mengambil andil dalam penurunan kualitas air sungai. Penelitian yang dilakukan oleh Triyoni Purbonegoro (2014) melaporkan bahwa kadar merkuri yang digunakan oleh pelaku PESK di aliran Sungai Kapuas sudah melewati ambang batas maksimum.

Sebagai warga Kalimantan Barat selama 21 tahun, berbagai masalah yang terus berkembang tersebut sangat terasa tahun demi tahun terhadap penurunan kualitas dan kuantitas air bersih. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak terkait penurunan kualitas dan kuantitas sumber air bersih di Kalimantan Barat.

Peran Pemerintah

Peran pemerintah dalam penyediaan air bersih tidak hanya sebatas penyediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih, tetapi juga pada perlindungan daerah resapan air. Upaya perlindungan daerah resapan air memerlukan kerjasama antar daerah selain itu juga pentingnya kerjsama dengan pihak swasta yang menyediakan air bersih dan air minum dengan alokasi yang ditentukan dalam izin yang diberikan oleh negara. Melihat kondisi sumber air yang semakin buruk, pemerintah harus menegakkan regulasi yang lebih ketat pada aktivitas-aktivitas yang berdampak langsung terhadap penurunan kualitas air seperti menertibkan peredaran merkuri yang digunakan oleh PESK di aliran sungai sebagaimana diatur dalam Peraturan Dareah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 4 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Distribusi dan Penggunaan Merkuri serta Bahan Sejenisnya.

Dalam hal penyediaan air minum adanya Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 3 Tahun 2016 tentang perubahan atas peraturan daerah no 4 tahun 2009 tentang pelayanan air minum perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta khatulistiwa harusnya semakin menegaskan akan peranan pemerintah dalam pemenuhanan akan air bersih masyarakat Kalimantan Barat sehingga tidak ada masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Selain menegakkan regulasi, pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber air.

Peran Masyarakat

Peran masyarakat dalam mengatasi krisis air bersih memiliki andil yang sangat besar karena pada dasarnya pemenuhan air bersih adalah oleh, dari, dan untuk masyarakat. Penanaman sikap dan perilaku masyarakat yang positif terhadap kebersihan sumber air merupakan suatu tindakan nyata untuk mengatasi krisis air bersih di masa akan datang, dimulai dari tindakan kecil seperti contoh tidak membuang sampah ke sungai. Menurut statistik air bersih, BPS Kalimantan Barat tahun 2015, penyaluran air bersih paling besar di alokasikan untuk rumah tangga sehingga ibu-ibu rumah tangga memiliki peranan penting dalam upaya mengatasi krisis air bersih. Selain itu, peran masyarakat dapat diwujudkan melalui kearifan lokal dimana sumber air bersih dapat dijaga dengan adanya hutan Tembawang yang merupakan hutan adat suku Dayak Kalimantan Barat.

Membudidayakan kebiasaan bijak dan hemat dalam menggunakan air akan menciptakan keselarasan antara masyarakat dengan pemerintah dalam mewujudkan Kalimantan Barat bebas krisis air bersih. Apa yang kita lakukan sekarang akan berdampak pada masa akan datang, dengan menjaga kelestarian daerah resapan air dan menjaga kualitas air di masa kini maka kita sudah menegakkan HAM dalam hal ini adalah hak atas air bersih. Oleh sebab itu, mari melestarikan bumi Kalimantan Barat untuk mewujudkan Kalimantan Barat bebas krisis air bersih.

Selamat memperingati Hari Air Dunia. Semoga kita bisa menjaga air sebagai sumber kehidupan. Mari kita mulai dengan mengurangi air limbah yang kita buang. Selamatkan air akan menyelamatkan hidup kita dan anak cucu. Sungai yang bersih cermin dari masyarakat yang beradab. (***)

Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta
(HP: 08126163805: Email: angelia15maret@gmail.com)