BEGHH…Ada 109 Janda Baru di Sintang

425
Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Sintang, Amin Sodik

SINTANG | SenentangNews.com– Jumlah kasus perceraian di bumi Senentang tergolong tinggi. Hampir setiap tahun, ratusan pasangan suami istri (pasutri) bercerai. Faktor perselisihan menjadi pemicu paling besar.

Dari data yang dilansir Pengadilan Agama (PA) Klas II Sintang, sepanjang tahun ini saja, untuk kasus cerai gugat per Januari hingga akhir Oktober 2018 yang  diterima ada 295 perkara dan sudah diselesaikan dengan 244 perkara. sementara cerai talak yang masuk ada 109 kasus dan sudah terselesaikan 87 kasus.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Sintang, Amin Sodik ketika ditemui  Senentangnews.com, Rabu (29/11) kemarin mengungkapkan bahwa lebih banyak kaum wanita yang mengajukan cerai dibanding dari kaum pria. Adanya perkara gugat tersebut dikarenakan banyaknya hal, salah satunya adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus.

“Ada banyak faktor sehingga terjadinya perkara cerai, yang paling besar dikarenakan oleh perselisihan dan pertengkaran terus menerus yaitu sebanyak 222 perkara. Tingkat kedua adalah dikarenakan meninggalkan salah satu pihak yaitu sebanyak 63 perkara,” ucapnya.

Sodik juga menyampaikan bahwa perkara cerai sendiri tak bisa diprediksikan umur berapa yang mendominasi. Pasalnya, hingga saat ini masih saja didapati.

“Untuk dispensasi kawin ada 41 perkara yang kita terima dan sudah kita selesaikan. Namun dari dispensasi kawin tersebut ada juga mereka yang tak lama kemudian  mengajukan gugat cerai atau cerai talak,” tuturnya.

Terpisah anggota DPRD Sintang, Kusnadi mengaku prihatin dengan tingginya angka perceraian di Sintang. Menurutnya kedepan hal tersebut harus menjadi perhatian bersama-sama.

“Saya rasa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Oleh sebab itu sebelum menentukan perceraian harus mikir berkali-kali agar keputusan mereka untuk bercerai tidak menjadi penyesalan belakangannya,”jelasnya.

Menurut Kusnadi perceraian memang kerap kali menjadi alternatif utama yang diambil oleh pasangan suami-istri untuk mengakhiri hubungan yang tidak harmonis.

“Kendati demikian, perceraian sebaiknya tidak diputuskan secara terburu-buru, harus dipikirkan dulu dampak baik atau buruknya kedepan,”sarannya. (uli/red)