Sekilas Info

Mengenal Alat Musik Keledik

SINTANG | SenentangNews.com – Wakil Bupati Sintang, Askiman bersama Bupati Melawi, Panji., Bupati Bengkayang, Suryatman Gidot., dan Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, Jakius Sinyo meniupkan alat musik Keledik sebagai penanda dibukanya Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang Tahun 2107 di komplek Stadion Baning Sintang, Selasa lalu (11/7).

Wakil Bupati Sintang, Askiman sebelum meniupkan alat musik tersebut mengatakan bahwa alat musik keledik ini sudah banyak melihat alat musik ini di Kecamatan Kayan Hulu.

“Sebenarnya ini adalah alat musik khas Dayak Kayan Hulu namun sekarang sudah banyak didapatkan di tempat lain,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Ambalau, FX Murniyanto yang juga turut hadir dalam pembukaan PGD tersebut menuturkan bahwa di kalangan masyarakat Dayak Uut Danum juga ada alat musik ini hanya berbeda nama saja.

“Kami menyebutnya Karondek. Kalau orang yang pandai meniup alat musik ini, maka ia akan emnghasilkan suara yang bagus dan merdu, bahkan bisa membuat kita yang mendengarnya bisa tertidur,” tuturnya.

Panitia Pelaksana Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang melalui Master of Ceremony (MC) menyebutkan bahwa Keledik merupakan alat musik tradisional asal Kabupaten Sintang. Keledik merupakan alat musik tiup tradisional yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten Sintang. Alat musik ini masuk kedalam kategori alat musik tiup seperti suling, serunai, saluang, dan sangka.

“Keledik merupakan satu alat musik tradisional yang terbuat dari sejumlah tabung bambu yang dihubungkan dengan sebuah labu. Fungsi dari tabung yang panjang tersebut dapat menghasilkan satu nada, sedangkan tabung lainnya dapat menghasilkan berbagai ragam nada suling,” ucapnya.

Keledik terbuat dari bambu dan benang. Keledi atau organ mulut dibuat dari buah labu yang sudah tua yang berumur sekitar 5-6 bulan. Labu tersebut kemudian dikeluarkan isinya, direndam selama satu bulan, dan selanjutnya dikeringkan. Buah labu dan batang-batang bambu disatukan dengan menggunakan perekat dari sarang kelulut (sejenis lebah hutan berukuran kecil).Nada yang dihasilkan berupa nada pentatonik.

Sebenarnya untuk memainkan alat musik ini tidak hanya ditiup, namun sekaligus dihisap dan ditiup. Alat musik ini dapat dimainkan dengan cara ditiup pada bagian lubang pada buah labu, buah labu sebagai sumber suara dibentuk sedemikian rupa, berbentuk melengkung dengan lubang yang telah dibentuk pula, kemudian disambnng dengan bambu yang jumlahnya sebanyak enam buah pula sebagai pengatur nada dengan menggunakan kedua jari pada tangan kiri dan kanan untuk mengatur tiupan dan nada.

Keledik ini peniupnya berwarna coklat tua sesuai dengan warna labu yang sudah tua, sedangkan warna bambu sebagai pengatur suara tetap kuning seperti warna bambunya, yang kekuning-kuningan. Ragam hiasnya tidak ada dan tetap berbentuk polos seperti bahan untuk membuatnya.

Keledik mempunyai makna yang sangat penting dalam upacara tradisional, misalnya setelah selesai panen padi. Alat musik ini biasanya digunakan sebagai pengiring teater tutur. Teater tutur ini disebut Beduha, Jandeh, Kana, Bejali. Pada pertemuan itu orang-orang sering berbalas pantun atau mengucapkan mantera-mantera dalam kepercayaan animisme. Walaupun demikian alat ini tidak terikat oleh upacara dan dapat digunakan kapan saja untuk hiburan. (uli)